Langsung ke konten utama

Pengaruh Penambahan Tepung Ketan Hitam terhadap Biskuit yang Dihasilkan: Review Jurnal

Pengaruh Penambahan Tepung Ketan Hitam terhadap Biskuit yang Dihasilkan

karya Dian Susanti dan Retti Ninsix


Latar Belakang Penelitian

Biskuit merupakan salah satu produk pangan yang diminati oleh berbagai kalangan. Namun, bahan utamanya, yaitu tepung terigu, masih diimpor karena Indonesia bukan negara penghasil gandum. Untuk mengurangi ketergantungan impor, diperlukan bahan alternatif seperti tepung ketan hitam. Selain mengandung karbohidrat, tepung ketan hitam kaya akan serat, kalsium, dan magnesium yang baik untuk kesehatan.


Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi substitusi tepung ketan hitam yang tepat untuk menghasilkan biskuit dengan kualitas baik, berdasarkan parameter kimia (kadar air, kadar abu, kadar protein) dan organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur).


Metodologi

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan:

  • A: 100% tepung ketan hitam + 0% tepung terigu.
  • B: 90% tepung ketan hitam + 10% tepung terigu.
  • C: 80% tepung ketan hitam + 20% tepung terigu.
  • D: 70% tepung ketan hitam + 30% tepung terigu.

Parameter yang diuji:

  1. Kadar air: Menentukan kesegaran dan daya simpan.
  2. Kadar abu: Mencerminkan kandungan mineral.
  3. Kadar protein: Menunjukkan nilai gizi.
  4. Uji organoleptik: Menilai warna, aroma, rasa, dan tekstur.


Hasil Penelitian

  1. Kadar Air

    • Berkisar antara 3,16% (perlakuan D) hingga 3,73% (perlakuan A).
    • Semua perlakuan memenuhi standar SNI untuk kadar air biskuit (maksimal 5%).
  2. Kadar Abu

    • Berkisar antara 0,98% (perlakuan D) hingga 2,01% (perlakuan A).
    • Perlakuan A melebihi standar SNI (maksimal 1,6%).
  3. Kadar Protein

    • Berkisar antara 1,95% (perlakuan A) hingga 6,22% (perlakuan D).
    • Semua perlakuan belum memenuhi standar SNI (minimum 9%).
  4. Uji Organoleptik

    • Perlakuan D menghasilkan biskuit dengan tekstur terbaik (nilai 4,55), rasa (3,85), dan warna yang lebih disukai (4,30).


Kesimpulan

  • Perlakuan D (70% tepung ketan hitam + 30% tepung terigu) menghasilkan biskuit terbaik secara keseluruhan, dengan kadar air 3,16%, kadar abu 0,98%, dan kadar protein 6,22%.
  • Tekstur dan rasa biskuit dari perlakuan ini dinilai paling baik oleh panelis.


Manfaat Penelitian

  1. Menyediakan alternatif bahan lokal untuk substitusi tepung terigu dalam pembuatan biskuit.
  2. Memberikan informasi tentang potensi tepung ketan hitam dalam diversifikasi pangan.


Komentar

Poppuler

"Media Pertumbuhan Kuman" : Review Jurnal

"Media Pertumbuhan Kuman" Penulis: Y. Kusumo Adi Arji Atmanto 1 , Lisdiana Amin Asri 2 , Nursin Abd. Kadir Definisi Media Kultur Media kultur adalah bahan dengan komposisi nutrisi tertentu yang menyediakan lingkungan buatan untuk pertumbuhan mikroorganisme. Setiap jenis mikroba membutuhkan media yang berbeda sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. Kegunaan Media Kultur Digunakan untuk diagnosa penyakit infeksi. Mengisolasi mikroorganisme agar dapat dipelajari lebih lanjut. Menguji sifat fisiologis mikroorganisme. Menghitung jumlah mikroorganisme. Persyaratan Media Kultur yang Baik Media kultur harus: Mudah disiapkan dan ekonomis. Mengandung nutrisi esensial seperti karbon, nitrogen, dan vitamin. Memiliki pH, suhu, dan tekanan osmotik yang sesuai. Bebas dari kontaminasi ( steril ). Bahan Penyusun Media Kultur Air : Sebagai pelarut dan sumber oksigen. Agar : Untuk memadatkan media. Sumber nutrisi : Karbohidrat (glukosa, laktosa), protein (pepton, ekstr...

Pengaruh Faktor Suhu dan Kelembaban terhadap Pertumbuhan Mikroba : Review Jurnal Mikrobiologi

 Pengaruh Faktor Suhu dan Kelembaban pada Lingkungan Kerja terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Mikroba Morfologi Pertumbuhan Bakteri Pada Media PCA Dengan Alat ProtoCOL3 Abstrak Penelitian ini membahas pengaruh suhu dan kelembaban terhadap pertumbuhan mikroba di lingkungan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Penelitian dilakukan menggunakan metode aktif dengan teknik Impaction sesuai SNI 9099:2022. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan kelembaban berhubungan langsung dengan pertumbuhan mikroba, yang ditandai dengan meningkatnya jumlah koloni bakteri dan jamur. Pendahuluan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah kunci keberhasilan perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Kualitas udara di ruang kerja sangat penting untuk mencegah penyakit akibat mikroba patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembaban terhadap pertumbuhan mikroba di udara. Metode Pene...